KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa , karna atas berkat dan
rahmatnya saya dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah FILSAFAT PENDIDIKAN ini yang
berjudul ‘’Critical Book Report’’.kami berterima kasih kepada ibu dosen yang
bersangkutan yang sudah memberikan bimbingannya.
Tugas ini memiliki banyak kekurangan oleh karena itu kami minta maaf
jika ada kesalahan dalam penulisan kami dan kami juga mengharapkan kritik dan
saran dalam tugas ini agar di lain waktu kami bisa membuat tugas dengan lebih
baik lagi.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih semoga apa yang saya kerjakan bisa
bermanfaat bagi orang lain.
Medan,
03 oktober 2017
Penulis
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………. 2
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang…………………………………………………………………………3
1.2 Tujuan………………………………………………………………………………… 4
1.3 Manfaat……………………………………………………………………………….. 4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Identitas Buku………… ……………………………………………………………… 5
2.2 Ringkasan isi buku…………………………………………………………………….. 6
2.3 Penilaian
Terhadap Buku……………………………………………………………………………………… 16
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………... 16
3.2 Saran…………………………………………………………………………………. 17
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Manusia adalah makhluk Tuhan paling sempurna penciptaannya dari makhluk
lain. Dengan menggunakan panca indera, manusia berusaha memahami benda-benda
konkrit. Eksistensi alam semesta tempat manusia hidup yang selalu berubah dan
penuh dengan peristiwa-peristiwa penting bahkan dahsyat untuk dipikirkan dan
direnungkan. Kadang-kadang manusia tidak kuasa untuk menentang dan menolaknya,
menyebabkan manusia itu tertegun, termenung memikirkan segala hal yang terjadi
di sekitar dirinya.
Manusia mengupayakan eksistensinya untuk hadir di alam
dalam berpikir agar apa yang dilihatnya dapat dipahami makna kehadiran sesuatu
di luar dirinya. Berpikir adalah hasil kerja pikiran. Pikiran manusia dalam
proses-proses pikirannya selalu nampak misterius dan menakjubkannya seperti
alam semesta sendiri, sehingga manusia terdorong memikirkannya secara mendalam.
Seperti halnya, proses berpikir dapat dilakukan
manusia denga mengarahkan pandangannya ke langit biru, maka nampak olehnya
benda-benda angkasa mengambang dan bersemayam di langit-langit.
Filsafat, dalam arti analisa filsafat adalah merupakan
salah satu cara pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam
memecahakan problematika pendidikan dan menyusun teori-teori pendidikannya, di
samping menggunakan metode-metode ilmiah lainnya. Denga kata lain, teori-teori
dan pandangan-pandangan filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh seorang
filosof tentu berdasarkan dan bercorak serta diwarnai oleh pandangan dan aliran
filsafat yag dianutnya.
Pancasila merupakan dasar dari pembentukan Negara
Indonesia sebagaimana yang dikemukakan oleh bung Karno di dalam lahirnya
Pancasila.Setiap Negara mempunyai dasar atau ideologinya.Fungsi dari suatu dari
ideology atau dogama yaitu serangkaian nilai-nilai yang dijadikan pegangan oleh
setiap warga Negara untuk mengikat seluruh anggotanya dalam suatu organisasi
Negara Republik Indonesia.Sebagai ideology,Pancasila sebagai dasar Negara.Oleh
sebab itu , setiap warga Negara wajib mengikuti dan menghormati nilai-nilai
tersebut dan secara kolekti ingin mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam
kehidupannya.
1.2 Tujuan
1.Mengkritik 2 buku untuk menambah ilmu dalam Filsafat
Pendidikan
2.Untuk menambah wawasan tentang Filsafat Pendidikan
khususnya Filsafat Pendidikan Pancasila
3.Untuk mempelajari Pandangan Filsafat Pancasila
Tentang Manusia
1.3 Manfaat
1.Memperbaiki diri menggunakan teori-teori Filsafat
Pendidikan Pancasila
2.Mengetahui bahwa dalam kehidupan sehari-hari
Filsafat Pendidikan Pancasila dapat menjadi acuan untuk membangun bangsa Indonesia.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 IDENTITAS BUKU
Buku Pertama (Buku Utama)
1.Judul buku :Filsafat Pendidikan
2. Pengarang : Dr.Edward Purba,MA
3.Pengarang :Prof.Dr.Yusnadi,MS
4. Penerbit : UNIMED PRESS
5. Tahun terbit : 2013
6. Kota Terbit :MEDAN
7.Tebal buku :164 lembar
Buku Kedua (Buku Pembanding)
1. Judul buku : FILSAFAT PENDIDIKAN
2. Pengarang :Prof.Dr.H.Jalaluddin
3.Pengarang :Prof.Dr.H.Abdullah Idi,M.Ed
4. Penerbit : Raja Grafindo Persada
5. Tahun terbit : 2011
6. Kota Terbit :Jakarta
7.Tebal Buku :384 Lembar
2.2 RINGKASAN ISI BUKU
Sumber:
FILSAFAT PENDIDIKAN FILSAFAT, MANUSIA, DAN PENDIDIKAN
A. Manusia
dan Filsafat
Manusia adalah makhluk Tuhan paling sempurna
penciptaannya dari makhluk lain. Dengan menggunakan panca indera, manusia
berusaha memahami benda-benda konkrit. Eksistensi alam semesta tempat manusia
hidup yang selalu berubah dan penuh dengan peristiwa-peristiwa penting bahkan
dahsyat untuk dipikirkan dan direnungkan. Kadang-kadang manusia tidak kuasa
untuk menentang dan menolaknya, menyebabkan manusia itu tertegun, termenung
memikirkan segala hal yang terjadi di sekitar dirinya.
Manusia mengupayakan eksistensinya untuk hadir di alam
dalam berpikir agar apa yang dilihatnya dapat dipahami makna kehadiran sesuatu
di luar dirinya. Berpikir adalah hasil kerja pikiran. Pikiran manusia dalam
proses-proses pikirannya selalu nampak misterius dan menakjubkannya seperti
alam semesta sendiri, sehingga manusia terdorong memikirkannya secara mendalam.
Seperti halnya, proses berpikir dapat dilakukan
manusia denga mengarahkan pandangannya ke langit biru, maka nampak olehnya
benda-benda angkasa mengambang dan bersemayam di langit-langit.
Dengan menangkap kesan indera lalu dipadukan dengan
analisis radio manusia mulai sadar bahwa pengertiannya melalui kesan indera itu
belum memuaskan. Manusia berpikir dan berpikir sepanjang masa dan sepanjang
jaman tentang hakikat dirinya dan alam semesta. Masing-masing dunia ini
memerlukan pendekatan yang berbeda-beda sebab wujud dan sifat realitas yang
akan ditafsirkan berbeda secara mendasar dan kualitatif.
Filsafat sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami
semua hal yang timbul di dalam keseluruhan lingkup pengalaman manusia. Sebelum
ada ilmu, filsafat merupakan lapangan utama pemikiran dan penyelidikan manusia.
Filsafat mendahului ilmu pengetahuan. Demikian pula kesimpulan-kesimpulan
filsafat yang bersifat hakiki, menyebabkan kedudukan filsafat dianggap lebih
tinggi daripada ilmu pengetahuan. Karena itulah filsafat dipandang sebagai
induk ilmu pengetahuan atau yang melahirkan ilmu pengetahuan. Bahkan karena
kedudukannya yang tinggi itu, filsafat disebut ratu ilmu pengetahuan (Queen
Knowledge).
B.
Filsafat dan Teori Pendidikan
Hubungan
fungsional antara filsafat dan teori pendidikan, secara lebih rinci dapat
diuraikan sebagai berikut :
1.
Filsafat, dalam arti analisa filsafat adalah merupakan salah satu cara
pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam memecahakan
problematika pendidikan dan menyusun teori-teori pendidikannya, di samping
menggunakan metode-metode ilmiah lainnya. Denga kata lain, teori-teori dan
pandangan-pandangan filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh seorang filosof
tentu berdasarkan dan bercorak serta diwarnai oleh pandangan dan aliran
filsafat yag dianutnya.
2.
Filsafat, juga berfungsi memberika arah agar teori pendidikan yang telah
dikembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan dan menuntut pandangan dan
aliran filsafat tertentu, mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata. Disinilah
letak fungsi filsafat dan filsafat pendidikan dalam memilih dan mengarahkan
teori-teori pendidikan dan kalau perlu juga merevisi teori pendidikan tersebut,
yang sesuai dan relevan dalam kebutuhan, tujuan, dan pandangan hidup
masyarakat.
3.
Filsafat, termasukjuga filsafat pendidikan, juga mempunyai fungsi untuk
memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi
ilmu pendidikan atau pedagogik.
C. Hubungan
Antara Filsafat, Manusia Dan Pendidikan
1. Kedudukan
Filsafat Dalam Ilmu Pengetahuan
Dalam
ilmu pengetahuan, filsafat mempunyai kedudukan
sentral, asal, atau pokok. Karena filsafatlah yang mula-mula merupakan
satu-satunya usaha manusia di bidang pemikiran untuk mencapai kebenaran atau
pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu dasarnya dari filsafat, dengan rincian antara
lain :
a. Setiap
ilmu pengetahuan itu mempunyai problem dan objek.
b. Filsafat
juga memberikan dasar-dasar yang umum bagi semua ilmu pengetahuan dan dengan
dasar yang umum itu dirumuskan keadaan dari ilmu pengetahuan itu.
c. Di
samping itu filsafat juga memberikan dasar-dasar yang khusus digunakan dalam
tiap-tiap ilmu pengetahuan.
d. Ilmu
pengetahuan memperoleh sifat ilmu itu kalau memenuhi syarat-syarat yang telah
ditentukan oleh filsafat.
e.
Filsafat juga memberikan metode atau cara kerja kepada tiap ilmu
pengetahuan.
2. Kedudukan
Filsafat Dalam Kehidupan Manusia
a.
Memberikan pengertian dan kesadaran kepada manusia akan arti pengetahuan
tentang kenyataan yang diberikan oleh filsafat.
b. Filsafat
memberikan pedoman hidup kepada manusia.
B.PANDANGAN
FILSAFAT PANCASILA TENTANG MANUSIA,MASYARAKAT,PENDIDIKAN DAN NILAI.
Pancasila merupakan dasar dari pembentukan Negara Indonesia sebagaimana
yang dikemukakan oleh bung Karno di dalam lahirnya Pancasila.Setiap Negara
mempunyai dasar atau ideologinya.Fungsi dari suatu dari ideology atau dogama
yaitu serangkaian nilai-nilai yang dijadikan pegangan oleh setiap warga Negara
untuk mengikat seluruh anggotanya dalam suatu organisasi Negara Republik
Indonesia.Sebagai ideology,Pancasila sebagai dasar Negara.Oleh sebab itu ,
setiap warga Negara wajib mengikuti dan menghormati nilai-nilai tersebut dan
secara kolekti ingin mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya.
1.Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Manusia
Pancasila sebagai dasar dan nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat,
bangsa dan Negara Indonesia memandang bahwa manusia adalah makhluk tertinggi
ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia yang dianugerahi kemampuan atau
potensi untuk bertumbuh dan berkembang , baik sebagai individu maupun sebagai
anggota masyarakat atau social.
Selanjutnya Paulus Wahana (dalam Tilaar.2002:191) mengemukakan gambaran
manusia Pancasila sebagai berikut;
a.
Manusia adalah makhluk monopluralitas yang memungkinkan manusia itu
dapat melaksanakan sila-sila yang tercantum dalam Pancasila.
b.
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang tertinggi yang dikaruniakan
memiliki kesadaran dan kebebasan dalam menentukan pilihannya.
c.
Dengan kebebasannya manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dapat
menentukan sikapnya dalam hubungannya dengan Penciptanya.
d. Sila
pertama menunjukkan bahwa manusia perlu menyadari akan kedudukannya sebagai
ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dan oleh sebab itu harus mampu menentukan
sikapnya terhadap hubungannya dengan Penciptanya.
e.
manusia adalah otonom dan memiliki harkat dan martabat yang luhur.
f. Sila
kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab menuntut akan kesadaran keluhuran
harkat dan martabatnya yaitu dengan menghargai akan martabat sesama manusia.
g. Sila
persatuan Indonesia berarti manusia Indonesia adalah makhluk social yang berada
didalam dunia Indonesia bersama-sama dengan manusa Indonesia yang lainnya.
h.
Selanjutnya manusia Indonesia haruslah dapat hidup bersama,menghargai
satu dengan yang lain dan tetap membina rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang
kokoh.
I.
Manusia adalah makhluk yang dinamis yang melakukan kegiatannya
bersama-sama dengan manusia Indonesia yang lain.
j. Sila
keempat atau sila demokrasi dituntut manusia Indonesia yang saling
menghargai,memeliki kebutuhan bersama di dalam menjalankan dan mengembangkan
kehidupannya.
k. Dalam
sila kelima manusia Indonesia dituntu saling memiliki kewajiban menghargai
orang lain dalam memanfaatkan sarana yang diperlukan bagi peningkatan tarag
kehidupan yang lebih baik.
Dari penjelasan di atas dan disimak dari nilai-nilai
luhur yang dikandung Pancasila,dapat disimpulkan bahwa manusia Pancasila adalah
manusia yang bebas dan bertanggung jawab terhadap perkembangan dirinya sebagai
individu dan perkembangan masyarakat (social) Indonesia.Manusia ciptaan Tuhan
Yang Maha Kuasa dianugerahi kemampuan atau potensi untuk bertumbuh dan
berkembang sepanjang hayat.Berikut ini digambarkan Profil manusia Indonesia era
millennium Ketiga (Tilaar.2002:199), jelasnya digambarkan seperti matriks
berikut ini;
2.Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Masyarakat
Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila yaitu Ke-Tuhanan Yang Maha
Esa,Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,Persatuan Indonesia,Kerakyatan yang
Dipimpin oleh Hikam kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan,serta keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.akan terwujud sesuai dengan perkembangan
dan kemajuan yang telah dicapai.karena itu
nilai-nilai luhur Pancasila tidak pernah tertinggal oleh perkembangan
dan kemajuan nilai-nilai itulah sebagai ciri kepribadian masyarakat-bangsa dan
negara Indonesia.
Akuntasi nilai filsafat Pancasila dalam membangun diformulasikan dalam
konsep pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
Di
atas dalam penjelasan hakekat masyarakat telah di jelaskan bahwa masyarakat
bangsa dan negara Indonesia menuju masyarakat madani yang aman ,
damai,sejahtera,terbuka serta toleran,adil dan makmur.Berarti masyarakat
Indonesia berkembang dengan tetap memperhatikan dan menghargai masing-masing
budaya etnis yang ada di dalam masyarakat,masing-masing budaya etnis yang ada
di dalam masyarakat , masing-masing budaya etnis yang ada di masyarakat
mendapakatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk berkembang.
3.Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Pendidikan
Dalam undang-undang sistem pendidikan Nasional no 20 tahun 2003
dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembakan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan,pengendalian diri,kepribadian,kecerdasan,akhlak mulia,serta
keterampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat , bangsa dan negara. Pendidikan berlangsung di keluarga,di rumah,
di sekolah, dan di masyarakat.
4.Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Nilai
Pembangunan nasional adalah upaya bangsa untuk mencapai tujuan nasional
sebagaimana yang sudah dinyatakan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar
1945.Pancasila sebagai dasar negara, pandangan hidup bangsa,dan sumber nilai
bagi bangsa Indonesia.Menurut kaelan,2000 (dalam surajiyo 2008,161) menjelaskan
bahwa Pancasila merupakan satu kesatuan dari sila-silanya merupakan sumber
nilai, kerangka berpikir serta asas moralitas bagi pembangunan ilmu pengetahuan
dan teknologi.Oleh karena itu,sila-sila dalam Pancasila menunjukkan sistem etika
dalam pembangunan iptek,seperti berikut ini:
a. Sila
ketuhanan Yang Maha Esa; Sila ini menempatkan manusia di alam semesta bukan
sebagai pusatnya,melainkan sebagai bagian yang sistematik dari alam yang di
olahnya.
b. Sila
Kemanusian yang Adil dan Beradab; Sila ini menekankan bahwa pembangunan dan
pelaksanaan pendidikan harus menjaga keseimbangan antar daerah , keberadaan
masyarakat dan warga negara,letak dan jarak atau geografis sehingga dapat
tercapai berdiri sama tinggi duduk sama rendah,dan bahu membahu membangun
bangsa ini.
c. Sila
Persatuan Indonesia,Sila ini memberikan kesadaran bagi bangsa Indonesia bahwa
rasa nasionalisme merupakan modal dasar bagi persatuan dan kesatuan bangsa.
d. Sila
kerakyatan yanf dipimpin oleh Hikmah kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan:mendasari bahwa setiap warga negara memiliki
kebebasan untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan potensinya, masing masing
warga negara menghormati kebebasan berkarya demi kemajuan dan perkembangan bangsa
yang berdasarkan Pancasila
e. Sila
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia:Sila ini mengandung nilai bahwa
manusia Indonesia harus menjaga keseimbangan keadilan dalam hubungannya dengan
dirinya sendiri,manusia dengan Tuhan,Manusia dengan manusia lain,manusia dengan
masyarakat bangsa dan negara serta manusia dengan alam lingkungannya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pancasila adalah sumber nilai
bagi pembangunan bangsa Indonesia.Pancasila menjadi kerangka kognitif dalam
indentifikasi diri sebagai bangsa,sebagai landasan,arah,dan etos,serta sebagai
moral pembangunan Nasional.
C.Pandangan Filsafat Pendidikan Pancasila Terhadap
Sistem Pendidikan Nasional.
Tatacara bernegara di Indonesia diatur dalam UUD 1945 yang selama ini
belum pernah mengalami amandemen,kecuali setelah bergulir reformasi tahun
1998.Kendatipun amandemen keempat telah rampung bulan agustus 2002 , namun
Pembukaan Uud 1945 masih tetap , tidak diamandemen ,dan alinea keempat
menyebutkan antara lain:”... untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara
Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,mencerdaskan kehidupan
bangsa,dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan,perdamaian abadi dan keadilan sosial,...”
Dengan tidak adanya perubahan terhadap pembukaan Uud 1945, menunjukan
bangwa bangsa Indonesia tetap memiliki komitmen yang kuat untuk melakukan upaya
sebagai langkah mencerdaskan kehidupan bangsa dalam rangka mengankat harkat dan
martabat bangsa Indonesia di mata dunia internasional.Lebih lanjut sebagai
acuan penyelenggaraan sistem pendidikan nasional,UUD 1945 pasal 31 yang
baru sebagai hasil amandemen Agustus
2002 menjadi :
1. Setiap
warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib
membiayainya;
2.
Pemerintah mengusahakan menyelanggarakan suatu sistem pendidikan
nasional;yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,yanf diatur dengan undang-undang;
3. Negara
memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran
pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah
untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan Nasional;
Sumber
: FILSAFAT PENDIDIKAN
1. Pancasila sebagai Filsafat
Hidup Bangsa
Pancasila adalah :
1. Jiwa
seluruh rakyat Indonesia
2.
Kepribadian bangsa Indonesia
3. Pandangan
bangsa Indonesia
4. Dasar
negara Indonesia
5. Tujuan
hidup bangsa Indonesia
6.
Kebudayaan yang mengajarkan banhwa hidup manusia akan mencapai puncak kebahagiaan
jika dapat dikembangkan keselarasan dan keseimbangan, baik dalam hidup manusia
secara pribadi, sebagai makhluk sosial dalam hubungan masyarakat, alam dan
Tuhannya à mengejar kemajuan lahiriah dan kebahagiaan rohaniah.
Pancasila harus dipahami, dihayati dan
diamalkan dalam kehidupan à sehingga mempunyai nilai dan arti bagi kehidupan
bangsa Pancasila yang dimaksud: Yang dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945
terdiri dari 5 sila, penjabarannya sebanyak 36 butir yang saling berhubungan
menjadi satu kesatuan. Sangatlah wajar kalu Pancasila dikatakan sebagai
filsafat hidup bangsa karena menurut Muhammad Noor Syam (1983: 346),
nilai-nilai dasar dalam sosio budaya Indonesia hidup dan berkembang sejak awal
peradabannya, yang meliputi:
1. Kesadaran
ketuhanan dan kesadaran keagamaan secara sederhana.
2. Kesadaran kekeluargaan, di mana cinta dan keluarga
sebagai dasar dan kodrat terbentuknya
masyarakat dan sinambungnya generasi.
3. Kesadaran
musyaawarah mufakat dalam menetapkan kehendak bersama.
4. Kesadaran
gotong royong, tolong-menolong.
5. Kesadaran tenggang rasa, atau tepo seliro, sebagai
semangat kekeluargaan dan kebersamaan, hormat demi keutuhan, kerukunan dan
kekeluargaan dalam kebersamaan.
Itulah yang termasuk dalam Pancasila dengan 36
butir-butirnya. Dengan begitu, pada dasarnya masyarakat Indonesia telah
melaksanakan Pancasila, walaupun sifatnya masih merupakan kebudayaan.
Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tersebut sudah beradab lamanya
mengakar pada kehidupan bangsa Indonesia, karena itu Pancasila dijadikan
sebagai falsafah hidup bangsa.
1. Pancasila
sebagai Filsafat Pendidikan Nasional
Pendidikan
di Indonesia berkembang secara dinamis dari zaman kemerdekaan 17 Agustus 1945
dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan.
Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 2: pendidikan diusahakan dan diselenggarakan oleh
pemerintah sebagai satu sistem pengajaran nasional à hal ini dimaksudkan agar
pendidikan dapat menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa.
Sejarah yang menyatakan bahwa Pancasila sebagai asas pendidikan nasional:
Menurut
Aris Toteles, tujuan pendidikan sama dengan tujuan didirikannya suatu negara
(Rapar, 1988:40)à begitu juga Indonesia, yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945
ingin menciptakan manusia pancasila Th 1959 pemerintah mengeluarkan
kebijaksanaan agar arah pendidikan tidak menuju pembentukan manusia liberal
yang dianggap sangat bertentangan dengan jiwa dan semangat bangsa Indonesia
(Depdikbud,1993. Atas instruksi menteri Pengajaran dan Budaya (PM) Prof.Dr.
Priyono yang dikenal dengan nama “Sapta Usaha Tama dan Pancawardhana” yang
isinya antara lain bahwa Pancasila merupakan asas pendidikan nasional (Supardo,
1960:431).
Jika
pendidikan suatu bangsa akan secara otomatis mengikuti ideologi bangsa yang
dianut, karenanya sistem pendidikan nasional Indonesia dijiwai, didasari dan
mencerminkan identitas Pancasila. Sementara cita dan karsa bangsa kita, tujuan
nasional dan hasrat luhur rakyat Indonesia, tersimpul dalam pembukaan UUD 1945
sebagai perwujudan jiwa dan nilai Pancasila. Cita dan karsa itu dilembagakan
dalam sistem pendidikan nasional yang bertumpu dan dijiwai oleh suatu
keyakinan, dan pandangan hidup Pancasila. Inilah alasan mengapa filsafat
pendidikan Pancasila merupakan tuntutan nasional, sedangkan filsafat pendidikan
Pancasila adalah subsistem dari sistem negara Pancasila. Dengan kata lain,
sistem negara Pancasila wajar tercermin dan dilaksanakan di dalam berbagai
subsistem kehidupan bangsa dan masyarakat.
Dengan
demikian, jelaslah tidak mungkin Sistem Pendidikan Nasional dijiwai dan
didasari oleh sistem filsafat pendidikan yang selain Pancasila. Hal ini
tercermin dalam tujuan Pendidikan Nasional yang termuat dalam UU No. 2 Tahun
1989 dan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni:
pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan
manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan,
kesehatan jasmani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta bertanggung jawab
kemasyarakatan.
3. Hubungan
Pancasila dengan Sistem pendidikan ditinjau dari Filsafat Pendidikan
Pancasila
adalah dasar negara Indonesia di mana fungsi utamanya sebagi pandangan hidup
dan kepribadian bangsa (Dardodiharjo, 1988: 17). Memegang fungsi dalam hidup
dan kehidupan bangsa dan negara Indonesia, Pancasila tidak saja sebagai dasar
negara RI, tapi juga alat pemersatu bangsa, kepribadian bangsa, pandangan hidup
bangsa, sumber ilmu pengetahuan di Indonesia (Azis, 1984: 70). Sehingga dapat
kita ketahui bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang membedakannya dengan
bangsa yang lain.
Filsafat
adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran
sesuatu. Sementara filsafat pendidikan adalah pemikiran yang mendalam tentang
kependidikan. Bila kita hubungkan fungsi Pancasila dengan sistem pendidikan
ditinjau dari filsafat pendidikan, maka dapat kita jabarkan bahwa Pancasila
adalah pandangan hidup bangsa yang menjiwai sila-silanya dalam kehidupan
sehari-hari. Dan untuk menerapkan sila-sila Pancasila, diperlukan pemikiran
yang sungguh-sungguh mengenai bagaimana nilai-nilai Pancasila itu dapat
dilaksanakan. Dalam hal ini, tentunya pendidikanlah yang berperan utama.
4. Filsafat
Pendidikan Pancasila ditinjau dari Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi
a. Ontologi
Ontologi
adalah bagian dari filsafat yang menyelidiki tentang hakikat yang ada. Menurut
Muhammad Noor Syam (1984: 24), ontologi kadang-kadang disamakan dengan
metafisika, sebelum manusia menyelidiki yang lain, manusia berusaha mengerti
hakikat sesuatu. Manusia dalam interaksinya dengan semesta raya, melahirkan
pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti apakah sesungguhnya realita yang ada
itu. Jadi, ontologi adalah cabang dari filsafat yang persoalan pokoknya apakah
kenyataan atau realita itu. Rumusan-rumusan tersebut identik dengan
membicarakan tentang hakikat ada. Hakikat ada dapat berarti segala sesuatu yang
ada, menunujuk kepada hal umum (abstrak umum universal). (Sutrisno, 1984:
82).Dalam kenyataanya, Pancasila dapat dilihat dari penghayatan dan pengamalan
kehidupan sehari-hari. Dan bila dijabarkan menurut sila-sila dari Pancasila itu
adalah sebagai berikut:
a. Sila
Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila
pertama ini menjiwai sila-sila yang lainnya. Di dalam sistem Pendidikan
Nasional dijelaskan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar
pada kebudayaan bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Dengan sila pertama ini, kita diharapkan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
yang juga merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional.
b. Sila
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Manusia
yang ada di muka bumi ini mempunyai harkat dan martabat yang sama, yang
diperlakukan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan fitrahnya sebagai hamba
Allah (Darmodiharjo, 1988: 40) Pendidikan tidak membedakan usia, agama dan
tingkat sosial budaya dalam menuntut ilmu. Setiap manusia mempunyaai kebebasan
dalam hal menuntut ilmu, mendapat perlakuan yang sama, kecuali tingkat
ketakwaan seseorang. Dan oleh karena yang dibangun adalah masyarakat Pancasila,
maka pendidikan harus dijiwai Pancasila sehingga akan melahirkan masyarakat
yang susila, bertanggung jawab, adil dan makmur, baik spiritual maupun materiil
dan berjiwa Pancasila. Dengan demikian, sekolah harus mencerminkan sila-sila
dari Pancasila.
c. Sila
Persatuan Indonesia
Persatuan
merupakan kunci kemenangan. Dengan persatuan yang kuat kita dapat menikmati
alam kemerdekaan. Sila ketiga ini tidak membatasi golongan dalam belajar. ini
berarti, bahwa semua golongan dapat menerima pendidikan, baik dari golongan
rendah maupun golongan yang tinggi, tergantung kepada kemampuannya untuk
berpikir, sesuai dengan UUD 1945 Pasal 31 ayat 1.
d. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat
Kebijaksanaan dalam PermusyawaratanPerwakilan
Sila
keempat ini sering dikaitkan dengan kehidupan berdemokrasi. Dalam hal ini,
demokrasi sering juga diartikan sebagai kekuasaan ada di tangan rakyat. sebagai
contoh, dalam memilih seorang pemimpin di desa, lembaga untuk menyalurkan
kehendak untuk kepentingan bersama melalui musyawarah (Djamal, 1986: 82). Bila
dilihat dari dunia pendidikan, maka hal ini sangat relevan, karena menghargai
pendapat orang lain demi kemajuan. Di samping itu, juga sesuai dengan UUD 1945
Pasal 28 yang menyatakan kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, baik secara
lisan maupun tulisan. Jadi, dalam menyusun tujuan pendidikan, diperlukan
ide-ide dari orang lain demi kemajuan pendidikan.
e. Sila Keadilan
Sosial bagi Rakyat Indonesia
Setiap
bangsa di dunia bertujuan untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur.
Keadilan ini meliputi kebutuhan di bidang materiil dan di bidang spiritual yang
didasarkan pada asas kekeluargaan.
b.
Epistemologi
Epistemologi
adalah studi tentang pengetahuan (adanya) benda-benda. Epistemologi yang
diartikan sebagai filsafat yang menyelidiki sumber, syarat, proses terjadinya
ilmu pengetahuan, batas validitas dan hakikat ilmu pengetahuan. Dengan
filsafat, kita dapat menentukan tujuan-tujuan yang akan dicapai demi
peningkatan ketenangan dan kesejahteraan hidup, pergaulan dan berwarga negara.
Untuk itu, bangsa Indonesia telah menemukan filsafat Pancasila.
c.
Aksiologi
Aksiologi
adalah bidang filsafat yang menyelidiki aspek nilai (value). Nilai tidak akan
timbul karena manusia mempunyai bahasa yang digunakan dalam pergaulan
sehari-hari. Jadi, masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai. Dikatakan
mempunyai nilai, apabila berguna, benar (logis), bermoral dan etis. Dengan
demikian, dapat pula dibedakan nilai materiil dan spiritual. Pancasila sebagai
pandangan hidup dan dasar negara memiliki nilai-nilai: Ketuhanan, Kemanusiaan,
Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan. Nilai ideal, materiil, spiritual dan nilai
positif dan juga nilai logis, estetika, etis, sosial dan religius. Dengan
demikian Pancasila syarat akan nilai.
2.3
Penilaian Terhadap Buku
1.Kelemahan
Buku.
Buku Filsafat Pendidikan dari Edward Purba memiliki cover buku yang
berwarna cerah tetapi sederhana,yang membuat rasa ingin tahu pembaca buku
tertarik untuk melihat dan membacanya,Sedangkan Buku dari Prof.Dr.H.Jalaluddin
memiliki cover buku yang berwarna kusam yang membuat daya tarik pembaca yang baru pertama melihatnya Buku dari
Prof.Dr.H.Jalaluddin mengurangi minat orang yang pertama melihat bukunya.
Buku
dari Edward Purba sedikit member latihan di akhir pembahasan sehingga sedikit
sulit untuk memahami isi nya jika tidak ada Dosen Pembimbing,Buku dari
Jalaluddin memberi banyak latihan sehingga membuat pembacanya lebih mengerti
dari tiap-tiap materi yang diberikan.
2.Kelebihan
Buku
Buku
Edward Purba sangat detail dan banyak memberikan contoh-contoh dari materi yang
di bahas ,misalnya di awal materi Buku Edward Purba member Standar
Kompetensi,Kompetensi dasar ,dan indikator,agar mahasiswa tahu inti dari materi
yang di jelaskan.
Buku
Edward Purba tidak terlalu menonjolkan ilmu Filsafat dalam materi yang terlalu
keagamaan,Sedangkan buku dari Jalaluddin terlalu menonjolkan keagamaan dari
agama tertentu dari sebagian besar materi yang ia berikan,hal ini akan
menimbulkan rasa dari pembaca yang
berbeda agama malas untuk lanjut
membacanya,Karena Terkadang sebagian orang tidak suka untuk mempelajari apa
yang diajarkan agama lain.
3.Perbedaan
kedua Buku
Buku
filsafat dari Edward Purba mempunyai tampilan yang lebih menarik,yang membuat
rasa penasaran dari calon pembaca. Kedua buku memberi materi yang mudah untuk
dipahami pembacanya,akan tetapi buku Jalaluddin lebih banyak memberikan latihan
–latihan daripada buku Edward Purba,akan tetapi Buku dari Edward Purba memberi
materi dengan sangat detail dan banyak contoh-contoh materi yang membuat
pembaca lebih mudah untuk memahaminya.
BAB
III PENUTUP
Kesimpulan
Filsafat pendidikan adalah aktivitas pemikiran teratur yang menjadikan
filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan,
mengharmoniskan, dan menerangkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapai.
Filsafat pendidikan mempunyai tiga cabang utama yaitu ontologi, espistomologi,
dan aksiologi. Filsafat penddikan memiliki ruang lingkup maupun tujuannya.
Praktek pelaksanaan pendidikan harus berlandaskan nilai dan budaya jangan
mengarah pada terbentuknya pengelompokkan praktek hidup dan kehidupan masyarakat.
Kedudukan filsafat pendidikan dalam jajaran ilmu pendidikan adalah sebagai
bagian fondasi-fondasi pendidikan dan filsafat pendidikan mempunyai peranan
yang sangat penting dalam suatu sistem pendidikan, karena filsafat merupakan
pemberi arah dan pedoman dasar bagi usaha – usaha perbaikan, meningkatkan
kemajuan dan landasan kokoh bagi tegaknya sistem pendidikan.
Saran
Menurut saya , cover buku
sangatlah penting untuk menarik minat calon pembaca,ketika calon pembaca kurang
suka membaca buku , hal utama yang dilihat pembaca yang malas adalah tampilan
buku.Karna akan percuma jika isi buku itu sangat lengkap tapi daya tarik untuk
menimbulkan minat pembaca untuk membaca buku tersebut kurang ,pembaca yang malas tidak akan membaca buku yang
tampilannya kurang bagus , dan lebih memilih membaca buku dengan tampilan bagus
walaupun isi dari buku tersebut kurang lengkap.
DAFTAR PUSTAKA
Jalaluddin H , Idi H.Abdullah.2011. Filsafat pendidikan.Jakarta: Raja Grafndo Persada.
Purba, Edward.Yusnadi. 2013. Filsafat pendidikan.Medan: Unimed Press.
No comments:
Post a Comment