CRITICAL JURNAL REVIEW
FISIKA DASAR
OLEH :
JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur
saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kasih dan rahmat-Nya saya
dapat menyelesaikan makalah “Critical Jurnal Review” ini tepat pada waktunya.
Terima kasih kami ucapkan
kepada Bapak Drs. Khairul Amdani, M.Si. selaku dosen pengampu mata kuliah
Fisika Umum yang telah membimbing kami mahasiswa kelas Pendidika Matematika A
2019. . Dalam makalah ini berisi tentang ringkasan isi jurnal, dan pendapat
terkait isi jurnal tersebut.
Selaku manusia biasa,
saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan dan kekeliruan yang tidak disengaja. Oleh karena itu, saya
membutuhkan kritik dan saran yang positif yang membangun untuk saya gunakan
sebagai masukan pada karya saya berikutnya. Saya berharap makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua, khususnya pada mata kuliah Fisika Dasar.
Medan, 1 Oktober 2019
Mahasiswa
Shopia Burju Situmorang
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Mata kuliah fisika umum merupakan salah satu mata kuliah umum
yang ada di fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam. Dalam mata kulaih
ini dibahas mengenai mekanika, listrik magnet, getaran dan gelombang, optik,
fluida, termodinamika dan fisika modren. Sama seperti mata kuliah lainnya, mata
kuliah ini juga memiliki 6 tugas yang wajib diselesaikan. Salah satu
diantaranya critical journal review (CJR). Dalam makalah ini berisi tentang
tugas CJR mengenai Fluida yaitu “Penerapan Hukum Archimedes”.
Fisika
adalah subjek yang kaya akan pengetahuan dan hukum-hukum fisika yang
diformulasikan dalam bentuk matematis. Dalam materi fluida terdapat salah satu hukum paling terkenal di dunia
adalah hukum Archimedes. Hukum ini pada dasarnya menjelaskan tentang reaksi
yang timbul karena suatu benda yang jatuh ke dalam air.
Pengertian hukum Archimedes merupakan sebuah
hukum yang menjelaskan serta membuktikan tentang adanya tiga teori tentang
sebuah bukti dari suatu benda yang dicelupkan ke dalam zat cair. Ketiga teori
tersebut, yaitu: benda akan tenggelam, benda akan melayang dan benda akan
terapung.
1.2. Rumusan Masalah
·
Apa yang
dimaksud dengan hukum Archimedes?
·
Bagaimana proses Pembelajaran
Kooperatif dengan Media Virtual untuk Peningkatan Penguasaan Konsep Fluida
Statis Siswa
1.3. Tujuan
Ø
Untuk
mengetahui pengertian hukum Archimedes
Ø Untuk menjelaskan proses Pembelajaran
Kooperatif dengan Media Virtual untuk Peningkatan Penguasaan Konsep Fluida
Statis Siswa
Ø
BAB II
REVIEW JURNAL
Pembelajaran
Kooperatif dengan Media Virtual untuk Peningkatan Penguasaan Konsep Fluida
Statis Siswa
|
PARAMETER
|
KETERANGAN
|
||
|
Identitas Jurnal
|
Jurnal Pendidikan Fisika dan Teknologi
(ISSN. 2407-6902)
Volume II No 2, April 2016
;66-72
|
||
|
Penulis
|
Nina Nisrina1 , Gunawan1 , Ahmad Harjono1
|
||
|
Alamat
|
FKIP Universitas Mataram Mataram, Indonesia
|
||
|
Latar
Belakang
|
Fisika adalah subjek yang kaya akan pengetahuan dan
hukum-hukum fisika yang diformulasikan dalam bentuk matematis. Kemampuan
dalam mengkategorikan masalah berdasarkan prinsip-prinsip dasar dibandingkan
dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kalimat akan dianggap lebih
ahli dalam fisika [1]. Belajar fisika terkait dengan memproleh pemahaman
konsep-konsep dasar dan menjadi ahli dalam mengetahui kapan, bagaimana, dan
mengapa fisika tersebut diaplikasikan [2]. Selain itu, mata pelajaran fisika
di tingkat SMA diajarkan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri untuk
mencapai fungsi dan tujuannya. Salah satu fungsi tersebut adalah menguasai
pengetahuan, konsep dan prinsip fisika serta mempunyai keterampilan
mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri sebagai bentuk
kreatifitas sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai
bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi [3]. Oleh
karena itu, paradigma pembelajaran harus lebih kepada proses pembelajaran
yang mengembangkan dan meningkatkan penguasaan konsep siswa. Harus dicatat
bahwa, siswa yang mengembangkan penguasaan konsep akan lebih cepat melakukan
halhal yang terkait dengan pengetahuan prosedural nantinya dibandingkan
dengan siswa yang menghafal dan mengingat saja. Selanjutnya, siswa dengan
penguasaan konsep yang bagus akan mampu menyelesaikan secara sempurna segala
bentuk tugas yang diberikan dan mampu mengembangkan prosedur-prosedur dan
kemampuan mereka yang belum pernah diajarkan [4].
Pada kenyataannya sebagian besar siswa di Indonesia
saat ini memiliki tingkat penguasaan konsep yang cukup rendah. Hal ini terbukti dari hasil
penilaian PISA pada bidang IPA tahun 2012 menunjukan bahwa Indonesia berada
pada tingkat 62 dari 64 negara terhadap tingkat akademik dan penguasaan
konsep IPA siswanya [5], dengan 377 PISA score. Survey kedua adalah survey
dari TIMSS (Trends International Mathematics Science Survey) tahun 2015
melaporkan nilai rata-rata IPA bidang kognitif menunjukan bahwa Indonesia
berada pada peringkat 37 dari 40 negara di dunia dengan standar deviasi lebih
kecil dari -1.0[6].
Penggunaan model pembelajaran konvensional dalam hal
ini yang kita kenal dengan model pembelajaran langsung (direct instruction)
cenderung sangat tidak sesuai untuk diterapkan karena informasi tersebut
mudah hilang sehingga tidak memiliki arti apa-apa. Instruksi langsung
bukanlah untuk meningkatkan penguasaan konsep tetapi lebih kepada menghafal
dan mengingat fakta-fakta [4]. Dengan metode ceramah, informasi cenderung hanya
dihafal tanpa adanya proses berpikir. Penggunaan model
Salah satu model pembelajaran yang dipilih peneliti
untuk dikembangkan sebagai metode alternatif tersebut guna menjembatani
kesenjangan antara kemampuan siswa serta dapat memberikan keleluasan kepada
siswa untuk mengembangkan penguasaan konsep mereka terhadap fisika adalah
model pembelajaran kooperatif tipe student teams-achievement divisions
(STAD). Model pembelajaran kooperatif tipe ini menuntut siswa untuk
memecahkan sebuah permasalahan secara kooperatif atau bersama untuk mencapai
tujuan bersama dimana setiap anggota kelompok memiliki kemampuan kognitif
yang berbeda sehingga dapat meningkatkan penguasaan konsep mereka karena
saling bekerjasama
Penggunaan media virtual dalam peningkatan
penguasaan konsep siswa dalam fisika digunakan karena penyajiannya menarik
dan efektif . Terdapat dua jenis media virtual yang digunakan yakni
laboratorium virtual dan video virtual. Penggunaan laboratorium virtual
digunakan berdasarkan beberapa hal yakni; ketika laboratorium nyata tidak ada
persediaan, dan materi yang diajarkan menginginkan variable-variabel hasil
praktikum yang banyak [7]. Berdasarkan penelitian Zacharias dan Constantinos,
pembelajaran dengan media virtual memberikan hasil yang efektif dalam peningkatan
penguasaan konsep.
Pada akhirnya dengan diterapkan model pembelajaran
kooperatif berbantuan virtual lab ini, siswa akan lebih mudah memahami konsep
materi dalam fisika tanpa dipengaruhi oleh kesenjangan keterampilan mereka,
dan mampu meningkatkan penguasaan konsep siswa.
|
||
|
Tujuan
penelitian
|
untuk menjelaskan proses Pembelajaran
Kooperatif dengan Media Virtual untuk Peningkatan Penguasaan Konsep Fluida
Statis Siswa
|
||
|
Metode
Penelitian
|
Penelitian
ini dikategorikan sebagai penelitian eksperimen semu (quasi experiment)
dengan desain pre-test-post test control group. Populasi penelitian adalah 7
kelas berisi 300 siswa Sekolah Menengah Atas. Sampel penelitian adalah 69
siswa Sekolah Menengah Atas yang dibagi dalam dua kelas yakni 35 siswa dalam
kelas eksperimen dan 34 siswa dalam kelas kontrol. Pemilihan sampel dilakukan
dengan metode “cluster random sampling”. Siswa-siswa tersebut memiliki
pengetahuan awal yang hampir sama yang diidentifikasi dari nilai-nilai
kognitif mereka sebelum perlakuan. Pada kelas eksperimen diberi perlakukan
model pemelajaran kooperatif tipe STAD dengan media virtual dan pada kelas
kontrol diberi perlakuan dengan model konvensional atau pembelajaran
langsung. Kedua kelas diberikan pre-tes sebelum perlakuan dan pos-tes setelah
perlakuan. Materi pembelajaran yang digunakan adalah fluida statis dengan 5
sub-bab. Media virtual yang digunakan berupa laboratorium virtual dan video
virtual. Instumen penelitian berupa tes kognitif pilihan ganda yang soalnya
dikategorikan dalam 6 aspek kognitif revisi Bloom oleh Krathwohl [14] yang
sudah divalidasi dan diberikan pada saat pre-tes dan pos-tes. Analisis data
penguasaan konsep menggunakan uji-t satu pihak dengan taraf signifikan 0,05.
Analisis statistik diawali dengan normalitas dan homogenitas data. Proses
perhitungan dibantu dengan Microsoft Office
|
||
|
Hasil
Penelitian
|
awal
dan tes akhir yang berbentuk soal pilihan ganda sebanyak 28 soal untuk
mengukur penguasaan konsep siswa dalam materi fluida statis dengan tujuan
untuk menganalisis penguasaan konsep siswa dengan menerapkan model kooperatif
berbantuan media virtual yang melibatkan kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Berdasarkan pemberian tes awal dan tes akhir pada kedua kelas terlihat bahwa
adanya peningkatan penguasaan konsep kedua kelas yang terlihat pada Tabel 1.
Tabel
1. Perolehan Skor Rata-rata Kedua Kelas
Data pada tabel 1 menjadi bukti bahwa pengaruh model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan bantuan media virtual terhadap
penguasaan konsep fisika siswa lebih baik dibandingkan dengan pengaruh model
pembelajaran langsung. Model pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan
pada siswa untuk meningkatkan kemampuan dalam memahami suatu konsep dan
menguasainya dengan baik karena mereka dapat bekerja secara kooperatif dan
saling melengkapi. Jika hanya belajar secara individual, maka peningkatan
kemampuan siswa akan hanya terjadi pada siswa pintar saja. Hal ini dibuktikan
oleh tabel 1 yang menunjukan skor terendah siswa pada kelas kontrol setelah
pos-tes yang hampir sama dengan rata-rata skor terendahnya setelah pre-tes
yakni 41, sedangkan skor tertingginya jauh lebih besar dibandingkan perolehan
skor terendahnya sehingga standar deviasinyapun besar.
Terlihat bahwa model pembelajaran kooperatif tipe
STAD lebih efektif dibandingkan hanya dengan pembelajaran langsung saja.
Pembelajaran langsung menuntut siswa untuk menghafal tanpa harus memahami
konsep terlebih dahulu, sehingga informasi yang didapatkan akan mudah hilang.
Sesuai dengan pernyataan Effandi and Iksan (2006), bahwa intruksi langsung
bukanlah untuk meningkatkan penguasaan konsep tetapi lebih kepada menghafal
fakta-fakta. Berbeda halnya dengan kooperatif, siswa belajar secara
kooperatif dengan siswa lain untuk saling berbagi pemahaman dengan bantuan
guru sebagai fasilitatornya. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Effandi and Iksan [4] yang meneliti tentang perspektif setiap
orang atau pendidik mengenai pembelajaran kooperatif untuk sains yang
menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif sangat bagus untuk peningkatan
kemampuan penguasaan konsep dan penyelesaian masalah sains. Begitu pula dengan
hasil penelitian
Materi yang digunakan dalam proses pembelajaran
adalah materi fluida statis dengan enam sub-materi yakni hukum utama
hidrostatis, tekanan hidrostatis, prinsip Archimedes, prinsip pascall, gejala
kapilaritas dan tegangan permukaan serta viskositas dan hukum stokes.
konsep untuk setiap materi dapat diketahui bahwa
peningkatan tertinggi pada kelas eksperimen adalah 89% pada materi viskositas
dan hukum Stokes, sedangkan terendah pada materi gejala kapilaritas dan
tegangan permukaan sebesar 69%. Pada kelas kontrol peningkatan tertinggi pada
materi hukum Archimedes sebesar 85% dan terendah pada materi tegangan
permukaan dan gejala kapilaritas sebesar 6%. Sedangkan untuk materi awal
seperti hukum utama hidrostatis untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol
berada pada prosentase sekitar 54% yang merupakan rata-rata dari seluruh
prosentase sub-materi.
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD dianggap
sebagai model pembelajaran yang sesuai dengan komponen-komponen penguasaan
konsep siswa. Model pembelajaran kooperatif juga sesuai dengan pembelajaran
untuk materi-materi yang konkrit dan abstrak seperti fisika. Hal ini sesuai
dengan kumpulan-kumpulan penelitian dalam jurnal yang ditulis oleh Effandi
(2006) yang dimana penelitian tersebut menyatakan bahwa model pembelajaran
kooperatif berhasil dalam meningkatkan kemampuan (skill) siswa di bidang
sains dan matematika (Zakaria and Iksan. 2006). Hasil ini sejalan dengan
hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengenai peningkatan penguasaan
konsep yang dimiliki siswa akibat pengaruh dari model pembelajaran kooperatif
tipe STAD dengan media virtual. Tetapi untuk peningkatan penguasaan konsep
pada komponen kognitif C6, model pembelajaran kooperatif tipe STAD tidak
mempengaruhi peningkatannya terlalu besar, melainkan menggunakan model
pembelajaran langsung juga dapat meningkatkan kognitif mencipta mereka.
sedangkan untuk peningkatan penguasaan konsep pada materi hukum Archimedes
dan Viskositas, model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media virtual dan
model pembelajaran langsung memiliki pengaruh yang sama terhadap
peningkatannya.
|
||
|
Kesimpulan
|
Penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media virtual berpengaruh
terhadap penguasaan konsep fisika siswa pada materi fluida statis secara signifikan.
Pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif dengan media virtual mampu
meningkatkan kemampuan penguasaan konsep fisika siswa pada sub-materi hukum
utama hidrostatis, tekanan hidrostatis, hukum paskal, dan hukum stokes serta
gejala kapilaritas dan tegangan permukaan. Sedangkan untuk sub-materi hukum
Archimedes dan viskositas, baik model pembelajaran kooperatif tipe STAD
dengan media virtual dan model pembelajaran langsung memiliki pengaruh yang
sama terhadap peningkatanya. Sedangkan untuk peningkatan penguasaan konsep
dari aspek kognitif C1 sampai C5 dipengaruhi secara signifikan oleh model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media virtual sedangkan untuk aspek
C6 peningkatannya lebih dipengaruhi oleh model pembelajaran langsung.
|
||
|
Daftar
Pustaka
|
Mason, A., & Singh, C. (2016). Using
categorization of problems as an instructional tool to help introductory
students learn physics. Physics Education, 51(2), 025009.
Lindstrøm, C., & Sharma, M. D. (2009). Link maps
and map meetings: Scaffolding student learning. Physical Review Special
Topics-Physics Education Research, 5(1), 010102
Departemen Pendidikan Nasional, Standar Kompetensi
Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Fisika SMA. Jakarata: Pusat Kurikulum Balitbang
Depdiknas, 2003.
Zakaria, E. (2009).
Promoting cooperative learning in science and mathematics education: A
Malaysian perspective. Colección Digital Eudoxus, (22).
Kauertz, A., Neumann, K., & Haertig, H. (2012).
Competence in science education. In Second international handbook of science
education (pp. 711-721). Springer Netherlands.
Valle, R. C., Normandeau, S., & Gonzalez, G. R.
(2015). Education at a glance interim report: update of employment and
educational attainment indicators. Paris: OCDE, Jan.
Zacharia, Z. C., & Constantinou, C. P. (2008).
Comparing the influence of physical and virtual manipulatives in the context
of the Physics by Inquiry curriculum: The case of undergraduate students’
conceptual understanding of heat and temperature. American Journal of
Physics, 76(4), 425-430.
H. Lam, B. P. Li, M. 2005. Cooperative Learning. The
Hong Kong Institute of Education
Slavin, R. E. (1990). Cooperative learning: Theory,
research, and practice. Prentice-Hall.
Cheah, H. M., & Lim, K. Y. (2016). Mediating
approaches to the use of ICT in teaching and learning through the lenses of
‘craft’and ‘industrial’educator. Journal of Computers in Education, 3(1),
21-31.
Herga, N. R., Čagran, B., & Dinevski, D. (2016).
Virtual Laboratory in the Role of Dynamic Visualisation for Better
Understanding of Chemistry in Primary School. Eurasia Journal of Mathematics,
Science & Technology Education, 12(3), 593-608.
De Jong, T., Linn, M. C., & Zacharia, Z. C.
(2013). Physical and virtual laboratories in science and engineering
education. Science, 340(6130), 305-308.
Brown, A. L., & Palincsar, A. S. (1989). Guided,
cooperative learning and individual knowledge acquisition. Knowing, learning,
and instruction: Essays in honor of Robert Glaser, 393-451.
Krathwohl, D. R. (2002). A revision of Bloom's
taxonomy: An overview. Theory into practice, 41(4), 212-218.
Kost, L. E., Pollock, S. J., & Finkelstein, N.
D. (2009). Characterizing the gender gap in introductory physics. Physical
Review Special Topics-Physics Education Research, 5(1), 010101.
|
BAB III
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN
3.1
Kelebihan
-Jurnal tersebut
menjelaskan setiap hal dalam penelitian secara rinci
-Jurnal tersebut
mempunyai topik yang menarik dan mendeskripsikan pembelajaran dengan metode
virtual tentang konsep fluida secara jelas
3.2
Kelemahan
-Banyak terdapat kesalahan
penulisan pada jurnal tersebut
-Ada beberapa pemilihan bahasa
yang sulit untuk dipahami
-
PENUTUP
4.1.
Kesimpulan
Berdasarkan jurnal
yang sudah kami review maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media virtual sangat berpengaruh
terhadap penguasaan konsep fisika siswa poada fluida statis secara signifikan.
Pembelajaran dengan konsep ini dapat meningkatkan kemampuan siswa tentang
materi fisika fluida statis.
.
4.2.
Saran
Adapun saran kami mengenai jurnal tersebut adalah agar
penulis lebih banyak menggunakan kata-kata yang mudah dipahamidan sebagai
pembaca memberi saran yang mendukung agar mencantumkan ataupun memaparkan saran
yang berkaitan dengan masalah jurnal tersebut.
CRITICAL JURNAL REVIEW
FISIKA DASAR

OLEH :
JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur
saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kasih dan rahmat-Nya saya
dapat menyelesaikan makalah “Critical Jurnal Review” ini tepat pada waktunya.
Terima kasih kami ucapkan
kepada Bapak Drs. Khairul Amdani, M.Si. selaku dosen pengampu mata kuliah
Fisika Umum yang telah membimbing kami mahasiswa kelas Pendidika Matematika A
2019. . Dalam makalah ini berisi tentang ringkasan isi jurnal, dan pendapat
terkait isi jurnal tersebut.
Selaku manusia biasa,
saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan dan kekeliruan yang tidak disengaja. Oleh karena itu, saya
membutuhkan kritik dan saran yang positif yang membangun untuk saya gunakan
sebagai masukan pada karya saya berikutnya. Saya berharap makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua, khususnya pada mata kuliah Fisika Dasar.
Medan, 1 Oktober 2019
Mahasiswa
Shopia Burju Situmorang
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Mata kuliah fisika umum merupakan salah satu mata kuliah umum
yang ada di fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam. Dalam mata kulaih
ini dibahas mengenai mekanika, listrik magnet, getaran dan gelombang, optik,
fluida, termodinamika dan fisika modren. Sama seperti mata kuliah lainnya, mata
kuliah ini juga memiliki 6 tugas yang wajib diselesaikan. Salah satu
diantaranya critical journal review (CJR). Dalam makalah ini berisi tentang
tugas CJR mengenai Fluida yaitu “Penerapan Hukum Archimedes”.
Fisika
adalah subjek yang kaya akan pengetahuan dan hukum-hukum fisika yang
diformulasikan dalam bentuk matematis. Dalam materi fluida terdapat salah satu hukum paling terkenal di dunia
adalah hukum Archimedes. Hukum ini pada dasarnya menjelaskan tentang reaksi
yang timbul karena suatu benda yang jatuh ke dalam air.
Pengertian hukum Archimedes merupakan sebuah
hukum yang menjelaskan serta membuktikan tentang adanya tiga teori tentang
sebuah bukti dari suatu benda yang dicelupkan ke dalam zat cair. Ketiga teori
tersebut, yaitu: benda akan tenggelam, benda akan melayang dan benda akan
terapung.
1.2. Rumusan Masalah
·
Apa yang
dimaksud dengan hukum Archimedes?
·
Bagaimana proses Pembelajaran
Kooperatif dengan Media Virtual untuk Peningkatan Penguasaan Konsep Fluida
Statis Siswa
1.3. Tujuan
Ø
Untuk
mengetahui pengertian hukum Archimedes
Ø Untuk menjelaskan proses Pembelajaran
Kooperatif dengan Media Virtual untuk Peningkatan Penguasaan Konsep Fluida
Statis Siswa
Ø
BAB II
REVIEW JURNAL
Pembelajaran
Kooperatif dengan Media Virtual untuk Peningkatan Penguasaan Konsep Fluida
Statis Siswa
|
PARAMETER
|
KETERANGAN
|
||
|
Identitas Jurnal
|
Jurnal Pendidikan Fisika dan Teknologi
(ISSN. 2407-6902)
Volume II No 2, April 2016
;66-72
|
||
|
Penulis
|
Nina Nisrina1 , Gunawan1 , Ahmad Harjono1
|
||
|
Alamat
|
FKIP Universitas Mataram Mataram, Indonesia
|
||
|
Latar
Belakang
|
Fisika adalah subjek yang kaya akan pengetahuan dan
hukum-hukum fisika yang diformulasikan dalam bentuk matematis. Kemampuan
dalam mengkategorikan masalah berdasarkan prinsip-prinsip dasar dibandingkan
dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kalimat akan dianggap lebih
ahli dalam fisika [1]. Belajar fisika terkait dengan memproleh pemahaman
konsep-konsep dasar dan menjadi ahli dalam mengetahui kapan, bagaimana, dan
mengapa fisika tersebut diaplikasikan [2]. Selain itu, mata pelajaran fisika
di tingkat SMA diajarkan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri untuk
mencapai fungsi dan tujuannya. Salah satu fungsi tersebut adalah menguasai
pengetahuan, konsep dan prinsip fisika serta mempunyai keterampilan
mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri sebagai bentuk
kreatifitas sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai
bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi [3]. Oleh
karena itu, paradigma pembelajaran harus lebih kepada proses pembelajaran
yang mengembangkan dan meningkatkan penguasaan konsep siswa. Harus dicatat
bahwa, siswa yang mengembangkan penguasaan konsep akan lebih cepat melakukan
halhal yang terkait dengan pengetahuan prosedural nantinya dibandingkan
dengan siswa yang menghafal dan mengingat saja. Selanjutnya, siswa dengan
penguasaan konsep yang bagus akan mampu menyelesaikan secara sempurna segala
bentuk tugas yang diberikan dan mampu mengembangkan prosedur-prosedur dan
kemampuan mereka yang belum pernah diajarkan [4].
Pada kenyataannya sebagian besar siswa di Indonesia
saat ini memiliki tingkat penguasaan konsep yang cukup rendah. Hal ini terbukti dari hasil
penilaian PISA pada bidang IPA tahun 2012 menunjukan bahwa Indonesia berada
pada tingkat 62 dari 64 negara terhadap tingkat akademik dan penguasaan
konsep IPA siswanya [5], dengan 377 PISA score. Survey kedua adalah survey
dari TIMSS (Trends International Mathematics Science Survey) tahun 2015
melaporkan nilai rata-rata IPA bidang kognitif menunjukan bahwa Indonesia
berada pada peringkat 37 dari 40 negara di dunia dengan standar deviasi lebih
kecil dari -1.0[6].
Penggunaan model pembelajaran konvensional dalam hal
ini yang kita kenal dengan model pembelajaran langsung (direct instruction)
cenderung sangat tidak sesuai untuk diterapkan karena informasi tersebut
mudah hilang sehingga tidak memiliki arti apa-apa. Instruksi langsung
bukanlah untuk meningkatkan penguasaan konsep tetapi lebih kepada menghafal
dan mengingat fakta-fakta [4]. Dengan metode ceramah, informasi cenderung hanya
dihafal tanpa adanya proses berpikir. Penggunaan model
Salah satu model pembelajaran yang dipilih peneliti
untuk dikembangkan sebagai metode alternatif tersebut guna menjembatani
kesenjangan antara kemampuan siswa serta dapat memberikan keleluasan kepada
siswa untuk mengembangkan penguasaan konsep mereka terhadap fisika adalah
model pembelajaran kooperatif tipe student teams-achievement divisions
(STAD). Model pembelajaran kooperatif tipe ini menuntut siswa untuk
memecahkan sebuah permasalahan secara kooperatif atau bersama untuk mencapai
tujuan bersama dimana setiap anggota kelompok memiliki kemampuan kognitif
yang berbeda sehingga dapat meningkatkan penguasaan konsep mereka karena
saling bekerjasama
Penggunaan media virtual dalam peningkatan
penguasaan konsep siswa dalam fisika digunakan karena penyajiannya menarik
dan efektif . Terdapat dua jenis media virtual yang digunakan yakni
laboratorium virtual dan video virtual. Penggunaan laboratorium virtual
digunakan berdasarkan beberapa hal yakni; ketika laboratorium nyata tidak ada
persediaan, dan materi yang diajarkan menginginkan variable-variabel hasil
praktikum yang banyak [7]. Berdasarkan penelitian Zacharias dan Constantinos,
pembelajaran dengan media virtual memberikan hasil yang efektif dalam peningkatan
penguasaan konsep.
Pada akhirnya dengan diterapkan model pembelajaran
kooperatif berbantuan virtual lab ini, siswa akan lebih mudah memahami konsep
materi dalam fisika tanpa dipengaruhi oleh kesenjangan keterampilan mereka,
dan mampu meningkatkan penguasaan konsep siswa.
|
||
|
Tujuan
penelitian
|
untuk menjelaskan proses Pembelajaran
Kooperatif dengan Media Virtual untuk Peningkatan Penguasaan Konsep Fluida
Statis Siswa
|
||
|
Metode
Penelitian
|
Penelitian
ini dikategorikan sebagai penelitian eksperimen semu (quasi experiment)
dengan desain pre-test-post test control group. Populasi penelitian adalah 7
kelas berisi 300 siswa Sekolah Menengah Atas. Sampel penelitian adalah 69
siswa Sekolah Menengah Atas yang dibagi dalam dua kelas yakni 35 siswa dalam
kelas eksperimen dan 34 siswa dalam kelas kontrol. Pemilihan sampel dilakukan
dengan metode “cluster random sampling”. Siswa-siswa tersebut memiliki
pengetahuan awal yang hampir sama yang diidentifikasi dari nilai-nilai
kognitif mereka sebelum perlakuan. Pada kelas eksperimen diberi perlakukan
model pemelajaran kooperatif tipe STAD dengan media virtual dan pada kelas
kontrol diberi perlakuan dengan model konvensional atau pembelajaran
langsung. Kedua kelas diberikan pre-tes sebelum perlakuan dan pos-tes setelah
perlakuan. Materi pembelajaran yang digunakan adalah fluida statis dengan 5
sub-bab. Media virtual yang digunakan berupa laboratorium virtual dan video
virtual. Instumen penelitian berupa tes kognitif pilihan ganda yang soalnya
dikategorikan dalam 6 aspek kognitif revisi Bloom oleh Krathwohl [14] yang
sudah divalidasi dan diberikan pada saat pre-tes dan pos-tes. Analisis data
penguasaan konsep menggunakan uji-t satu pihak dengan taraf signifikan 0,05.
Analisis statistik diawali dengan normalitas dan homogenitas data. Proses
perhitungan dibantu dengan Microsoft Office
|
||
|
Hasil
Penelitian
|
awal
dan tes akhir yang berbentuk soal pilihan ganda sebanyak 28 soal untuk
mengukur penguasaan konsep siswa dalam materi fluida statis dengan tujuan
untuk menganalisis penguasaan konsep siswa dengan menerapkan model kooperatif
berbantuan media virtual yang melibatkan kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Berdasarkan pemberian tes awal dan tes akhir pada kedua kelas terlihat bahwa
adanya peningkatan penguasaan konsep kedua kelas yang terlihat pada Tabel 1.
Tabel
1. Perolehan Skor Rata-rata Kedua Kelas
Data pada tabel 1 menjadi bukti bahwa pengaruh model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan bantuan media virtual terhadap
penguasaan konsep fisika siswa lebih baik dibandingkan dengan pengaruh model
pembelajaran langsung. Model pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan
pada siswa untuk meningkatkan kemampuan dalam memahami suatu konsep dan
menguasainya dengan baik karena mereka dapat bekerja secara kooperatif dan
saling melengkapi. Jika hanya belajar secara individual, maka peningkatan
kemampuan siswa akan hanya terjadi pada siswa pintar saja. Hal ini dibuktikan
oleh tabel 1 yang menunjukan skor terendah siswa pada kelas kontrol setelah
pos-tes yang hampir sama dengan rata-rata skor terendahnya setelah pre-tes
yakni 41, sedangkan skor tertingginya jauh lebih besar dibandingkan perolehan
skor terendahnya sehingga standar deviasinyapun besar.
Terlihat bahwa model pembelajaran kooperatif tipe
STAD lebih efektif dibandingkan hanya dengan pembelajaran langsung saja.
Pembelajaran langsung menuntut siswa untuk menghafal tanpa harus memahami
konsep terlebih dahulu, sehingga informasi yang didapatkan akan mudah hilang.
Sesuai dengan pernyataan Effandi and Iksan (2006), bahwa intruksi langsung
bukanlah untuk meningkatkan penguasaan konsep tetapi lebih kepada menghafal
fakta-fakta. Berbeda halnya dengan kooperatif, siswa belajar secara
kooperatif dengan siswa lain untuk saling berbagi pemahaman dengan bantuan
guru sebagai fasilitatornya. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Effandi and Iksan [4] yang meneliti tentang perspektif setiap
orang atau pendidik mengenai pembelajaran kooperatif untuk sains yang
menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif sangat bagus untuk peningkatan
kemampuan penguasaan konsep dan penyelesaian masalah sains. Begitu pula dengan
hasil penelitian
Materi yang digunakan dalam proses pembelajaran
adalah materi fluida statis dengan enam sub-materi yakni hukum utama
hidrostatis, tekanan hidrostatis, prinsip Archimedes, prinsip pascall, gejala
kapilaritas dan tegangan permukaan serta viskositas dan hukum stokes.
konsep untuk setiap materi dapat diketahui bahwa
peningkatan tertinggi pada kelas eksperimen adalah 89% pada materi viskositas
dan hukum Stokes, sedangkan terendah pada materi gejala kapilaritas dan
tegangan permukaan sebesar 69%. Pada kelas kontrol peningkatan tertinggi pada
materi hukum Archimedes sebesar 85% dan terendah pada materi tegangan
permukaan dan gejala kapilaritas sebesar 6%. Sedangkan untuk materi awal
seperti hukum utama hidrostatis untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol
berada pada prosentase sekitar 54% yang merupakan rata-rata dari seluruh
prosentase sub-materi.
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD dianggap
sebagai model pembelajaran yang sesuai dengan komponen-komponen penguasaan
konsep siswa. Model pembelajaran kooperatif juga sesuai dengan pembelajaran
untuk materi-materi yang konkrit dan abstrak seperti fisika. Hal ini sesuai
dengan kumpulan-kumpulan penelitian dalam jurnal yang ditulis oleh Effandi
(2006) yang dimana penelitian tersebut menyatakan bahwa model pembelajaran
kooperatif berhasil dalam meningkatkan kemampuan (skill) siswa di bidang
sains dan matematika (Zakaria and Iksan. 2006). Hasil ini sejalan dengan
hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengenai peningkatan penguasaan
konsep yang dimiliki siswa akibat pengaruh dari model pembelajaran kooperatif
tipe STAD dengan media virtual. Tetapi untuk peningkatan penguasaan konsep
pada komponen kognitif C6, model pembelajaran kooperatif tipe STAD tidak
mempengaruhi peningkatannya terlalu besar, melainkan menggunakan model
pembelajaran langsung juga dapat meningkatkan kognitif mencipta mereka.
sedangkan untuk peningkatan penguasaan konsep pada materi hukum Archimedes
dan Viskositas, model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media virtual dan
model pembelajaran langsung memiliki pengaruh yang sama terhadap
peningkatannya.
|
||
|
Kesimpulan
|
Penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media virtual berpengaruh
terhadap penguasaan konsep fisika siswa pada materi fluida statis secara signifikan.
Pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif dengan media virtual mampu
meningkatkan kemampuan penguasaan konsep fisika siswa pada sub-materi hukum
utama hidrostatis, tekanan hidrostatis, hukum paskal, dan hukum stokes serta
gejala kapilaritas dan tegangan permukaan. Sedangkan untuk sub-materi hukum
Archimedes dan viskositas, baik model pembelajaran kooperatif tipe STAD
dengan media virtual dan model pembelajaran langsung memiliki pengaruh yang
sama terhadap peningkatanya. Sedangkan untuk peningkatan penguasaan konsep
dari aspek kognitif C1 sampai C5 dipengaruhi secara signifikan oleh model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media virtual sedangkan untuk aspek
C6 peningkatannya lebih dipengaruhi oleh model pembelajaran langsung.
|
||
|
Daftar
Pustaka
|
Mason, A., & Singh, C. (2016). Using
categorization of problems as an instructional tool to help introductory
students learn physics. Physics Education, 51(2), 025009.
Lindstrøm, C., & Sharma, M. D. (2009). Link maps
and map meetings: Scaffolding student learning. Physical Review Special
Topics-Physics Education Research, 5(1), 010102
Departemen Pendidikan Nasional, Standar Kompetensi
Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Fisika SMA. Jakarata: Pusat Kurikulum Balitbang
Depdiknas, 2003.
Zakaria, E. (2009).
Promoting cooperative learning in science and mathematics education: A
Malaysian perspective. Colección Digital Eudoxus, (22).
Kauertz, A., Neumann, K., & Haertig, H. (2012).
Competence in science education. In Second international handbook of science
education (pp. 711-721). Springer Netherlands.
Valle, R. C., Normandeau, S., & Gonzalez, G. R.
(2015). Education at a glance interim report: update of employment and
educational attainment indicators. Paris: OCDE, Jan.
Zacharia, Z. C., & Constantinou, C. P. (2008).
Comparing the influence of physical and virtual manipulatives in the context
of the Physics by Inquiry curriculum: The case of undergraduate students’
conceptual understanding of heat and temperature. American Journal of
Physics, 76(4), 425-430.
H. Lam, B. P. Li, M. 2005. Cooperative Learning. The
Hong Kong Institute of Education
Slavin, R. E. (1990). Cooperative learning: Theory,
research, and practice. Prentice-Hall.
Cheah, H. M., & Lim, K. Y. (2016). Mediating
approaches to the use of ICT in teaching and learning through the lenses of
‘craft’and ‘industrial’educator. Journal of Computers in Education, 3(1),
21-31.
Herga, N. R., Čagran, B., & Dinevski, D. (2016).
Virtual Laboratory in the Role of Dynamic Visualisation for Better
Understanding of Chemistry in Primary School. Eurasia Journal of Mathematics,
Science & Technology Education, 12(3), 593-608.
De Jong, T., Linn, M. C., & Zacharia, Z. C.
(2013). Physical and virtual laboratories in science and engineering
education. Science, 340(6130), 305-308.
Brown, A. L., & Palincsar, A. S. (1989). Guided,
cooperative learning and individual knowledge acquisition. Knowing, learning,
and instruction: Essays in honor of Robert Glaser, 393-451.
Krathwohl, D. R. (2002). A revision of Bloom's
taxonomy: An overview. Theory into practice, 41(4), 212-218.
Kost, L. E., Pollock, S. J., & Finkelstein, N.
D. (2009). Characterizing the gender gap in introductory physics. Physical
Review Special Topics-Physics Education Research, 5(1), 010101.
|
BAB III
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN
3.1
Kelebihan
-Jurnal tersebut
menjelaskan setiap hal dalam penelitian secara rinci
-Jurnal tersebut
mempunyai topik yang menarik dan mendeskripsikan pembelajaran dengan metode
virtual tentang konsep fluida secara jelas
3.2
Kelemahan
-Banyak terdapat kesalahan
penulisan pada jurnal tersebut
-Ada beberapa pemilihan bahasa
yang sulit untuk dipahami
-
PENUTUP
4.1.
Kesimpulan
Berdasarkan jurnal
yang sudah kami review maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media virtual sangat berpengaruh
terhadap penguasaan konsep fisika siswa poada fluida statis secara signifikan.
Pembelajaran dengan konsep ini dapat meningkatkan kemampuan siswa tentang
materi fisika fluida statis.
.
4.2.
Saran
Adapun saran kami mengenai jurnal tersebut adalah agar
penulis lebih banyak menggunakan kata-kata yang mudah dipahamidan sebagai
pembaca memberi saran yang mendukung agar mencantumkan ataupun memaparkan saran
yang berkaitan dengan masalah jurnal tersebut.
No comments:
Post a Comment