KATA PENGANTAR
Puji
dan Syukur Kita Panjatkan kehadiran Allah SWT,atas berkat dan rahmatnya ,Critical
Book Report ini dapat terselesaikan .Sebagai mana Laporan ini Saya Buat sebagai
salah satu Tugas Kuliah saya yang bermata kuliah kan FILSAFAT PENDIDIKAN .Critical Book saya ini berjudul FILSAFAT PENDIDIKAN .Saya mengucapakan
terimakasih kepada Dosen Pengampu saya
yang telah memberikan cara dan pedoman untuk menyelesaikan tugas
Critical Book Report ini .Semoga Critical Book
Report ini Bermaanfaat bagi kita semua .Terimakasih .
Medan,September 2018
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL …………………………………………………..……………………………………………… I
KATA
PENGANTAR ………………………………………………………………………………………………..II
BAB
1 PENDAHULUAN…………………………………………………………………………………………..III
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.3 TUJUAN PENULISAN
1.4 INFORMASI BIBLIOGRAFI
BAB 2 RINGKASAN BUKU………………………………………………………………………………………IV
2.1 RINGKASAN BUKU
BAB 3 KEUNGGULAN DAN
KELEMAHAN BUKU……………………………………………………….,V
BAB 4 PENUTUP………,..………………………………………………………………………………………….VI
KESIMPULAN
SARAN
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Filsafat adalah pecinta kebijaksanaan
berdasarkan Bahasa Yunani ialah kajian masalah umum dan mendasar tentang persoalan
seperti eksistensi pengetahuan ,nilai,akal,pikiran,dan Bahasa(Wipedia)
Maka Untuk Menguji itu saya sebagai mahasiswa memberikan
Laporan Critical Book Report Sebagai Hasil . .Laporan Critical Book Report ini
diharapkan sebagai sumber pengetahuan bagi mahasiswa .yang dimana berisi
kelemahan dan kekurangan buku dan
analisis buku.
1.
Ringkasan Buku
2.
Keunggulan dan kelemahan
buku
Adapun tujuan penulisan Laporan Critical Book ini adalah
untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan buku dan sebagai pemenuhan tugas saya
sebagai mahasiswa dan pada dasarnya
tujuan penulisan laporan ini tidak ingin menghina dan merendahkan Penulis
1.4 INFORMASI BIBLIOGRAFI
PENULIS : Dr. Muhammad Kristiawan,
M.Pd
ISBN : 978-602-71540-8-7
TAHUN TERBIT : 2016
URUTAN CETAKAN : CETAKAN KE-3
DIMENSI BUKU : 14,5 x 20,5 cm
TEBAL BUKU : 273 HALAMAN
BAB 2
RINGKASAN
BUKU
BAB I :
MENGENAL FILSAFAT DAN FILSAFAT PENDIDIKAN
Istilah
“filsafat” dapat ditinjau dari dua segi, yakni: a). Segi semantik: perkataan
filsafat berasal dari bahasa arab ‘falsafah’, yang berasal dari bahasa yunani,
‘philosophia’, yang berarti ‘philos’= cinta, suka (loving), dan ’sophia’ =
pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi ‘philosophia’ berarti cinta kepada
kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang
berfilsafat diharapkan menjadi bijaksana. b). Segi praktis: dilihat dari
pengertian praktisnya, filsafat berarti ‘alam pikiran’ atau ‘alam berpikir’.
Berfilsafat artinya berpikir, olah pikir. Namun tidak semua berpikir berarti
berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh.
Sebuah semboyan mengatakan bahwa “setiap manusia adalah filsuf”. Semboyan ini
benar juga, sebab semua manusia berpikir. Akan tetapi secara umum semboyan itu
tidak benar, sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filsuf. Tegasnya,
filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu
kebenaran dengan sedalam-dalamnya.
Manfaat filsafat dalam kehidupan adalah 1) sebagai dasar dalam
bertindak; 2) sebagai dasar dalam mengambil keputusan; 3) untuk mengurangi
salah paham dan konflik; 4) persiapan menghadapi situasi dunia yang selalu
berubah; dan 5) menjawab keraguan. Kemudian ciri-ciri berfikir filosofis antara
lain 1) berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi; 2) berfikir
secara sistematis dan teliti; 3) menyusun suatu skema konsepsi; 4) menyeluruh
dan seluas-luasnya (universal); 5) setinggi-tingginya; dan 6)
setuntas-tuntasnya serta selengkaplengkapnya.
Filsafat pendidikan adalah
filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.
Filsafat akan menentukan “mau dibawa kemana” siswa kita. Filsafat merupakan
perangkat nilai-nilai yang melandasi dan membimbing ke arah pencapaian tujuan
pendidikan. Oleh sebab itu, filsafat yang
dianut oleh suatu bangsa atau kelompok masyarakat tertentu atau yang dianut
oleh perorangan (dalam hal ini Dosen/Guru) akan sangat mempengaruhi tujuan
pendidikan yang ingin dicapai
BAB II
: DASAR – DASAR PENGETAHUAN (PENALARAN DAN LOGIKA)
Penalaran
merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa
pengetahuan. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan
'berpikir', dan bukan hanya dengan 'perasaan.' Tidak semua kegiatan berpikir
harus menyandarkan diri pada penalaran.
Logika adalah istilah yang
dibentuk dari kata logikos yang berasal dari kata benda λόγος (logos) yang
berarti sesuatu yang diutarakan, suatu pertimbangan akal (pikiran), kata,
percakapan, atau ungkapan lewat bahasa. Sebagai ilmu, logika disebut dengan
logike episteme (Latin: logica scientia) yang berarti ilmu logika, namun
sekarang lazim disebut logika saja.
Definisi lain logika adalah ilmu yang mempersoalkan
prinsip-prinsip dan aturan-aturan penalaran yang sahih (valid). Dari beberapa
definisi tersebut, Rappar menyimpulkan bahwa logika adalah cabang filsafat yang
mempelajari, menyusun, mengembangkan dan membahas asas-asas, aturan-aturan
formal, prosedur-prosedur, serta kriteria yang sahih bagi penalaran dan
penyimpulan demi mencapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara
rasional.
Kegunaan Logika membantu setiap orang yang mempelajari logika
untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan
koheren dan meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan
objektif juga Menambah kecerdasan dan
meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan
menghindari kesalahan-kesalahan berpikir, kekeliruan, serta kesesatan.
BAB II
: HAKIKAT MANUSIA DAN HAKIKAT PENDIDIKAN
Jalaludin
dan Abdullah (1997:107) mengemukakan pandangan tentang hakikat manusia ada pada
empat aliran yaitu: aliran serba zat, aliran serba ruh, aliran dualisme, dan
aliran eksistensialisme.
a. Pandangan Aliran Serba Zat; bahwa yang sungguh-sungguh ada
itu hanyalah zat atau materi, alam ini adalah zat atau materi dan manusia
adalah unsur dari alam, maka dari itu manusia adalah zat atau materi.
b. Pandangan Aliran serba ruh; hakikat manusia adalah ruh,
adapun zat itu adalah manifestasi daripada ruh di atas dunia ini. Berarti
menurut aliran ini ruh itu ialah hakikat, sedangkan badan adalah penjelmaan
atau bayangan.
c. Menurut aliran
dualisme; manusia pada hakikatnya terdiri dari dua substansi yaitu jasmani dan
rohani. Kedua substansi ini masing-masing merupakan unsur asal yang adanya
tidak tergantung satu sama lain. Jadi badan tidak berasal dari ruh dan ruh
tidak berasal dari badan. Antara badan dan ruh terjadi sebab akibat yang mana
keduanya saling mempengaruhi.
d. Menurut aliran
Eksistensialisme; yang merupakan salah satu aliran filsafat modern berpikir
tentang hakikat manusia merupakan eksistensi atau perwujudan sesungguhnya dari
manusia. Jadi pada hakikatnya manusia yaitu apa yang menguasai manusia secara menyeluruh. Di sini
manusia dipandang tidak dari sudut serba zat atau serba ruh melainkan dari segi
eksistensi manusia itu di dunia ini.
Berikut ini dikemukakan beberapa pendapat para ahli tentang
Hakikat pendidikan (Tim Pembina Mata Kuliah, 2008):
a. T. Raka Joni (1982) Pendidikan merupakan proses interaksi
manusiawi yang ditandai oleh keseimbangan kedaulatan subjek didik dengan
kewibawaan pendidik. Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik
menghadapi lingkungan hidup yang mengalami perubahan yang semakin pesat.
Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi yang semakin pesat.
Pendidikan berlangsung seumur hidup. Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan
prinsip iptek bagi pembentukan manusia seutuhnya.
b. Ki Hadjar Dewantara Hakikat pendidikan ialah proses
penanggulangan masalah-masalah serta penemuan dan peningkatan kualitas hidup
pribadi serta masyarakat yang berlangsung seumur hidup. Pada tingkat permulaan
pendidik lebih menentukan dan mencampuri pendidikan peserta.
c. Plato Filsuf Yunani yang hidup dari tahun 429 SM-346
mengatakan bahwa: “Pendidikan itu ialah membantu perkembangan masing-masing
dari jasmani dan akal dengan sesuatu yang memungkinkan tercapainya
kesempurnaan.”
d. Aristoteles Filsuf terbesar Yunani, guru Iskandar Makedoni,
yang dilahirkan pada tahun 384 SM-322 SM mengatakan bahwa: “Pendidikan itu
ialah menyiapkan akal untuk pengajaran.”
BAB IV : FILSAFAT PENDIDIKAN SEBELUM ABAD 20
Jauh sebelum
manusia menemukan dan menetapkan apa yang sekarang kita sebut sesuatu sebagai
suatu disiplin ilmu sebagaimana kita mengenal ilmu kedokteran, fisika,
matematika, dan lain sebagainya, umat manusia lebih dulu memikirkan dengan
bertanya tentang berbagai hakikat apa yang mereka lihat. Kemudian jawaban
mereka itulah yang nanti akan kita sebut sebagai sebuah jawaban filsafati.
Kalau ilmu diibaratkan sebagai sebuah pohon yang memiliki berbagai cabang
pemikiran, ranting pemahaman, serta buah solusi, maka filsafat adalah tanah
dasar tempat pohon tersebut berpijak dan tumbuh.
Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani
dan tidak di daerah yang berperadaban lain kala itu seperti Babilonia, Yudea
(Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah
lainnya, tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.
Perkembangan Filsafat Umum Berpijak pada pemikiran
Poedjawijatna (1986), periode perkembangan filsafat dapat dibagi empat, yaitu:
(1) filsafat Yunani; (2) filsafat Hindu; (3) filsafat Islam; (4) filsafat
Eropa/ filsafat modern.
Filsafat Yunani Filsafat Yunani sebagai filsafat tertua, mulai
ada sejak munculnya Thales sebagai bapak filsafat yang mengatakan bahwa
intisari alam adalah air. Filsuf lain yang sezaman dengan Thales, Anaximenes
berpendapat bahwa dasar pertama atau intisari alam adalah udara, dan Pitagoras
berpendapat dasar segala sesuatu adalah bilangan. Aliran filsafat ketiga filsuf
ini disebut juga aliran materialisme. Pemikiran ini berlanjut ke masa hidup
Socrates yang gigih mencari pengertian yang murni dan sebenarnya, yaitu
pengertian sejati.
Filsafat
Hindu; Sejak Abad 10 SM Perkembangan filsafat Hindu sejalan dengan perkembangan
filsafat Yunani. Bahkan ada ahli yang mengatakan adanya kesamaan konsep
mitologi Hindu dengan Yunani. Filsafat Hindu ini tertuang dalam konsep Vedisme,
Brahmanisme, dan Budisme. Vedisme adalah keseluruhan alam pikiran India yang
merupakan filsafat dan agama.
Filsafat Islam :
Filsafat Islam sebenarnya berakar pada filsafat Yunani, yaitu ketika seorang
penerjemah berkebangsaan Yunani yang bernama Hunain pindah ke Irak dan bekerja
di istana Khalifah dari Daulat Abasiyah. Harun Al Rasyid, khalifah daulat
Abasiyah yang sudah berpikiran maju dan punya perhatian besar terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan memberi fasilitas untuk pengkajian ilmu
pengetahuan, termasuk pemikiran-pemikiran filsafat Aristoteles dan Plato. Dia
mendirikan sebuah lembaga pengkajian ilmu pengetahuan yang bernama Baitul
Hikmah
Filsafat Eropa adalah filsafat modern yang berkembang sejak
munculnya keinginan untuk menjadikan alam pemikiran klasik sebagai pedoman bagi
perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang terkenal dengan istilah
renaissance. Alam pemikiran klasik Yunani sempat ditinggalkan oleh orang Eropa
ketika berlangsungnya Kristenisasi di Eropa. Pada masa Kristenisasi sebenarnya
masih ada perkembangan filsafat, tetapi alam pemikirannya dipengaruhi oleh
kebudayaan Romawi (Latin). Nama-nama yang dapat dicatat antara lain:
Tertulianus (160-222) dan Agustinus (354-430).
BAB V : ONTOLOGI,EPISTEMOLGI DAN AKSIOLOGI
Secara
terminologi, ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada yang
merupakan realitas, baik berbentuk 142 FILSAFAT PENDIDIKAN; The Choice Is Yours
jasmani atau konkrit maupun rohani atau abstrak. Ada beberapa pengertian dasar
mengenai apa itu “ontologi.” Pertama, ontologi merupakan studi tentang
ciri-ciri “esensial” dari Yang Ada dalam dirinya sendiri yang berbeda dari
studi tentang hal-hal yang ada secara khusus. Dalam mempelajari ‘yang ada’
dalam bentuknya yang sangat abstrak studi tersebut melontarkan pertanyaan,
seperti “Apa itu Ada dalam dirinya sendiri?” Kedua, ontologi juga bisa
mengandung pengertian sebuah cabang filsafat yang menggeluti tata dan struktur
realitas dalam arti seluas mungkin yang menggunakan kategori-kategori, seperti
ada/menjadi, aktualitas/potensialitas, esensi, keniscayaan dasar, yang ada
sebagai yang ada. Ketiga, ontologi bisa juga merupakan cabang filsafat yang
mencoba melukiskan hakikat Ada yang terakhir.
Secara
etimologis “Epistemologi” berasal dari dua suku kata (Yunani), yakni ‘epistem’
yang berarti pengetahuan atau ilmu (pengetahuan) dan ‘logos’ yang berarti
‘disiplin’ atau teori. Dalam Kamus Webster disebutkan bahwa epistemologi
merupakan “Teori ilmu pengetahuan (science) yang melakukan investigasi mengenai
asal-usul, dasar, metode, dan batas-batas ilmu pengetahuan.
aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) berarti nilai
dan logos yang berarti teori. Jadi, aksiologi adalah teori tentang nilai; 2)
aksiologi dalam bukunya Jujun S. Suriasumantri disebut sebagai teori nilai yang
berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh; 3) menurut Barmel,
aksiologi terbagi menjadi tiga bagian: (1) moral conduct, yaitu tindakan moral,
melahirkan disiplin khusus yakni etika, (2) aesthetic expression, yaitu expresi
keindahan, melahirkan keindahan, (3) sosio-political life, yaitu kehidupan
sosial politik, melahirkan fisafat sosial politik.
Masyarakat
madani adalah istilah yang dilahirkan untuk menerjemahkan konsep di luar
menjadi “Islami”. Menilik dari subtansi civil society lalu membandingkannya
dengan tatanan masyarakat Madinah yang dijadikan pembenaran atas pembentukan
civil society di masyarakat Muslim modern akan ditemukan persamaan sekaligus
perbedaan di antara keduanya.
Ada beberapa ciri-ciri utama dalam civil society, (1) adanya
kemandirian yang cukup tinggi dari individu-individu dan kelompok-kelompok
dalam masyarakat, utamanya ketika berhadapan dengan negara; (2) adanya ruang
publik bebas sebagai wahana bagi keterlibatan politik secara aktif dari warga
negara melalui wacana dan praksis yang berkaitan dengan kepentingan publik, dan
(3) adanya kemampuan membatasi kuasa negara agar ia tidak intervensionis.
BAB VII : BAHAYA FILSAFAT
Inti
dari paham sekularisme menurut al-Nabhani (1953) adalah pemisahan agama dari
kehidupan (faşlud-din ‘anil-hayah). Menurut Nasiwan (2003), sekularisme di
bidang politik ditandai dengan 3 hal, yaitu: (1). Pemisahan pemerintahan dari
ideologi keagamaan dan struktur eklesiatik, (2). Ekspansi pemerintah untuk
mengambil fungsi pengaturan dalam bidang sosial dan ekonomi, yang semula
ditangani oleh struktur keagamaan, (3). Penilaian atas kultur politik
ditekankan pada alasan dan tujuan keduniaan yang tidak transenden.
Perkembangan sekularisme di Barat ternyata tidak hanya
berhenti di tanah kelahirannya saja, tetapi terus berkembang dan disebarluaskan
ke seantero dunia, termasuk di dunia Islam. Seiring dengan proses penjajahan
yang mereka lakukan, ide-ide sekularisme terus ditancapkan dan diajarkan kepada
generasi muda Islam. Hasilnya sungguh luar biasa, begitu negerinegeri Islam
mempunyai kesempatan untuk memerdekakan diri, bentuk negara dan pemerintahan
yang dibangun umat Islam sepenuhnya mengacu pada prinsip sekularisme dengan
segala turunannya. Mulai dari pengaturan pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya,
termasuk tentunya adalah dalam pengembangan model pendidikannya. Boleh
dikatakan hampir tidak ada satupun bagian dari penataan negeri ini yang
terbebas dari prinsip sekularisme tersebut.
BAB VII : ALIRAN -ALIRAN FILSAFAT
Aliran teori
nativisme ini dipelopori oleh seorang berkebangsaan Jerman bernama Arthur
Schopenhauer yang hidup pada abad 19, dilahirkan tahun 1788 dan meninggal dunia
tahun 1860. Teori ini merupakan kebalikan dari teori tabularasa, yang
mengajarkan bahwa anak lahir sudah memiliki pembawaan sendiri-sendiri.
Pembawaan yang hanya ditentukan oleh pembawaannya sendiri-sendiri. Pembawaanlah
yang maha kuasa, yang menentukan perkembangan anak. Lingkungan sama sekali tidak
bisa mempengaruhi, apalagi membentuk kepribadian anak. Jika pembawaan jahat
akan menjadi jahat, jika pembawaannya baik akan menjadi baik.
Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan
bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak
anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika
dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan tiga eksponennya adalah David
Hume, George Berkeley, dan John Locke.
Empirisme
secara etimologis berasal dari kata bahasa Inggris empiricism dan experience.
Kata-kata ini berakar dari kata bahasa Yunani έμπειρία (empeiria) dan dari kata
experietia yang berarti “berpengalaman dalam,” “berkenalan dengan,” “terampil
untuk.” Sementara menurut A.R. Lacey, berdasarkan akar katanya Empirisme adalah
aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan
atau parsial didasarkan kepada pengalaman yang menggunakan indera.
Idelisme.Aliran
ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan
baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke
generasi.
Realisme
berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia
ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subyek yang
menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya
realitas di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia.
Menurut
aliran filsafat materialisme, asal, sifat dan hakikat dari semua keberadaan
adalah materi. Paham matrealisme tidak mengakui adanya Tuhan. Tidak ada bab
tentang Tuhan. Kalau pun ada, maka dicacilah manusia yang percaya kepada Tuhan.
Dasar
dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan pada
manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan
terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima
begitu saja
Eksistensialisme adalah filsafat
yang mengandung segala gejala dengan berpangkal kepada eksistensi. Pada umumnya
kata eksistensi berarti keberadaan, tetapi di dalam filsafat eksistensialisme
ungkapan eksistensi mempunyai arti yang khusus. Eksistensi adalah cara manusia
berada di dalam dunia.
Esensialisme
berpendapat bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela yang mengatur
dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Esensialisme didukung oleh
idealisme modern yang mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam semesta
tempat manusia berada. Esensialisme juga didukung oleh idealisme subyektif yang
berpendapat bahwa alam semesta itu pada hakikatnya adalah jiwa/spirit dan
segala sesuatu yang ada ini nyata ada dalam arti spiritual.
Progresivisme
berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme
bersifat dinamis dan temporal, menyala, tidak pernah sampai pada yang paling
ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus
karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang
telah disimpan dalam kebudayaan. Belajar berfungsi untuk mempertinggi taraf kehidupan
sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang
eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan
kebutuhan.
Aliran rekonstruksionisme adalah
suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata
susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme, pada
prinsipnya, sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu hendak menyatakan krisis
kebudayaan modern. Kedua aliran tersebut, aliran rekonstruksionisme dan
perenialisme, memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai
kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan dan kesimpangsiuran.
Positivisme
adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya
sumber pengetahuan yang benar, menolak aktifitas yang berkenaan dengan
metafisik, tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris.
KELEMAHAN DAN KEUNGGULAN BUKU
1.
Dari Aspek tampilan Buku
,buku sudah menggambarkan bagaimana filsafat pendidikan dengan baik dan benar
dan memiliki tampilan yang cukup bagus walaupun hanya berlandaskan cover hitam
dan putih dan disain nya terlalu sederhana
2.
Dari Aspek tata letak Buku
ini menurut saya sudah memiliki tata letak yang rapi sebagaimana tata letak
buku seharusnya.
3.
Dari Aspek Isi Buku ini
menurut saya Sudah Menunjukkan filsafat Pendidikan yang lengkap.dimana di
setiap bab maupun sub bab nya menjelaskan materi secara luas dan mudah dipahami
4.
Dari Aspek tata Bahasa buku ini Khusunya pada Bab 4 Norma sosial
Sudah Cukup bagus dimana menggunakan kata kata yang sangat sopan namun masih
ada kata kata yang sulit dimengerti.
BAB 4
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
Laporan ini bahwa Filsafat Pendidikan ialah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai
masalah-masalah pendidikan. Filsafat akan menentukan “mau dibawa kemana” siswa
kita. Filsafat merupakan perangkat nilai-nilai yang melandasi dan membimbing ke
arah pencapaian tujuan Pendidikan.
Dan di dalam buku karya Dr. Muhammad Kristiawan, M.Pd,2016 sangat relevan sebagai buku
Filsafat Pendidikan
B.
Saran
Filsafat Pendidikan adalah suatu studi
yang sangat bermanfaat maka dari itu diharapkan selanjutnya ilmu - ilmu
filsafat ini harus diterapkan baik di dalam lingkup Pendidikan maupun lingkup
lingkungan masyarakt.
DAFTAR PUSTAKA
Dr.
Muhammad Kristiawan, M.Pd,2016,Filsafat Pendidikan. Penerbit Valia Pustaka
Jogjakarta
No comments:
Post a Comment